Akademi Sepak Bola AS Monaco

Akademi Sepak Bola AS MonacoAkademi Sepak Bola AS Monaco – Monaco beberapa tahun lalu dibelioleh salah satu investor dari Rusia yang lantas menggelontor uang dan juga dana belanja untuk transfer yang membuat Monaco belanja secara gila-gilaan di bursa transfer musim panas tahun lalu. Tidak tanggung-tanggung, Radamel Falcao didatangkan dengan harga cukup besar. Lalu Joao Moutinho dan juga James Rodriguez juga didatangkan bersama Ricardo Carvalho yang membuat skuad AS Monaco lebih komplit.

Keuntungan Monaco sendiri bukan hanya mendapatkan dana besar. Namun mereka juga bebas dari pajak yang diberlakukan kepada tim-tim Prancis terhadap bursa transfer mereka. Monaco sendiri bermarkas di luar Prancis yang merupakan bagian kerajaan tersendiri. Dan Monaco sendiri menjadi tim yang memiliki pengeluaran terbesar di Eropa bahkan dunia saat ini. Dan Monaco sendiri terus menghindari pembayaran pajak yang diberlakukan kepada tim-tim Prancis yang menggaet beberapa pemain asing. Bahkan Presiden Bordeaux, Jean Louis Tiraud dan  juga Presiden Montpellier, Louis Nicollin beberapa waktu lalu sempat mengecam Monaco dan juga meminta AS Monaco keluar dari Ligue 1 disebabkan keuntungan mereka bebas dari pajak.

Monaco bahkan disebut-sebut sebagai tim yang bukanlan akar dari kompetisi Ligue 1. Apalagi dengan status mereka yang berada di luar Prancis dan berada di wilayah Mediterannia. Namun berdasarkan sejarah, Monaco jelas menjadi salah satu sejarah dan juga menunjukkan bahwa Monaco merupakan salah satu akar Ligue 1. Ketika itu Monaco yang masuk ke dalam kerajaan menjadi salah satu tim dengan akademi sepakbola yang terbaik di kawasan Eropa. Ketika itu nama-nama seperti Manuel Amoros dan juga Bruno Bellono yang kala itu masuk ke dalam tim nasional Prancis yang berhasil menggondol trofi Piala Eropa ’84 , merupakan produk asli dari akademi AS Monaco. Kedua nama ini menjadi andalan Prancis di era tersebut sebelum era nama-nama Emmanuel Petit dan juga Lilian Thuram, David Trezeguet hingga Thierry Henry. Dan jelas menjadi cikal bakal pemain legendaries Prancis.

Musim ini Monaco mulai mendaratkan nama-nama besar seperti Radamel Falcao dan juga James Rodriguez serta Joao Moutinho hingga Ricardo Carvalho ke skuad Monaco. Namun mereka ternyata mampu tetap memproduksi bintang-bintang muda berbakat Prancis yang mampu menampilkan permainan yang cukup impresif dan juga menjadi calon bintang. Tengok saja bek kiri Monaco yang dihuni oleh Layvin Kurzawa yang mampu menampilkan permainan yang cukup konsisten dan juga konstan serta mampu membuat lini belakang menjadi lebih aman. Bahkan Kurzawa menjadi pilihan utama Ranieri sepanjang musim ini. Dan Kurzawa langsung disegel oleh Monaco setelah melakukan perpanjangan kontrak bebewapa waktu lalu. Nama lain yang juga merupakan produk asli Monaco adalah Valere Germain yang menjadi pengganti Falcao di lini depan dan juga Jessy Pi serta Marcel Tisserand yang dipinjamkan ke Lens musim ini. Dan pemain pinjaman ini pun juga mampu menampilkan permainan terbaik di musim ini.

Akademi Monaco jelas boleh berbangga. Pasalnya fakta membuktikan bahwa di kompetisi Ligue 1 musim 2012/13, tercatat ada sekitar 40 pemain yang berlaga di kompetisi Ligue 1 dan juga Ligue 2 yang dihasilkan oleh akademi mereka. Berbeda dengan rival mereka di Ligue 1, Paris Saint Germain. Di skuad Les Parisiens Adrien Rabiot menjadi satu-satunya pemain dengan produk asli dari akademi PSG. Namun nasibnya justru menjadi tidak menentu usai Cabaye hadir. Jelas persaingan semakin ketat.

Minimnya pemain Prancis di skuad Parc des Princes memang membuat PSG terus berupaya guna mendapatkan pemain asal Prancis. Praktis hanya ada Blaise Matuidi dan juga Adrien Rabiot di skuad PSG musim ini. Bahkan kedua pemain ini kurang mendapat tempat di skuad utama. Hanya Matuidi yang sering menjadi andalan. Cabaye sendiri dimasukkan dengan maksud untuk memperbanyak nama pemain Prancis di skuad PSG Namun untuk membuat Cabaye menjadi pemain inti PSG sendiri tampaknya rasio tersebut cukup sulit. Pasalnya ada banyak pemain bintang di posisi Cabaye.

Jelas berbeda jauh dengan Monaco. Tim yang dikritik oleh para Presiden klub Ligue 1 tersebut yang juga dimasukkan sebagai tim asing tersebut dan tidak pernah dianggap masuk sebagai klub Prancis ini ternyata memberikan kontribusi dari akademi mereka jauh lebih baik ketimbang PSG. Tercatat ada 5 pemain asli Prancis di yang bisa memberikan kontribusi besar di skuad Monaco.

PSG mungkin menjadi perwakilan Prancis di kompetisi Eropa yang dianggap bisa bersaing ketat dengan tim-tim besar lainnya. Namun jelas mereka tidak memberikan kesempatan kepada para pemain muda untuk berkembang. Bandingkan dengan AS Monaco yang diakuisisi oleh pengusaha kaya namun tetap memperhatikan perkembangan para pemain muda mereka. Namun jika berbicara mengenai prestasi, langkah PSG telah menampilkan kesuksesan dengan merebut trofi. Meskipun bisa dikatakan sangat ironis melihat fakta bahwa kejayaan skuad PSG tersebut justru diraih oleh para pemain di luar Prancis semacam Marco Verratti, Ibra, Cavani, Lavezzi hingga Thiago Motta.

Jelas PSG menggunakan jasa para pemain asing yang mempunyai harga yang cukup mahal dan juga memiliki permainan yang baik dimana mereka bisa meraih gelar juara. Sama seperti yang dilakukan oleh Inter ketika mereka akhirnya meraih gelar jawara Eropa ditahun 2010 dengan menggunakan para pemain di luar Italia.

Namun hasilnya tim nasional Italia hancur total di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan diakibatkan tidak adanya generasi muda yang bisa menggantikan peran para pemain seniornya di skuad Gli Azzurri tersebut. Jelas PSG memang mampu meraih gelar juara. Namun jelas berbahaya bagi skuad Prancis jika mereka tidak mampu menghasilkan talenta berbakat Prancis di masa depan. Dan tidak mungkin hanya berharap dari Monaco semata.